Source: komuniti.iluvislam.com

Pandang-memandang antara laki-laki dan perempuan ternyata memberikan sensasi rasa yang sama dengan perasaan ketika kita memenangkan sesuatu atau meraih pencapaian yang tinggi akan sesuatu. Semisal, ketika seorang petinju akhirnya dinyatakan menang dalam satu pertandingan, maka luka-luka yang mengiringinya selama pertandingan tersebut tidak akan ada rasanya, tertutup oleh sensasi rasa atas kemenangannya. Rasa sakit tertutup oleh rasa senang, bangga dan puas.

Dan ternyata, pandangan atau tatapan mata antara lawan jenis memberikan sensasi rasa yang sama. Hal ini tidak saja terjadi pada manusia dewasa saja. Pada anak setingkat SD pun, sekitar 11-12 tahun, pandangan mata sudah mampu menimbulkan sensasi rasa yang luar biasa tersebut. Maka jika hal ini dibiarkan, anak akan lebih mencari sensasi rasa dari hubungan antara lawan jenis. Bukannya mencari sensasi rasa dari hal-hal yang bersifat positif seperti mendapatkan nilai baik, menjadi juara kelas, memenangkan perlombaan, dsb. Jika hal ini dibiarkan, tidaklah mengherankan jika lebih banyak terjadi praktek-praktek hubungan antara lawan jenis yang belum sepantasnya dilakuka oleh para remaja.

Untuk itu, pendidikan seks pada usia dini sebaiknya tidak perlu terlalu digembar-gemborkan. Anak akan matang dengan alamiah. Tugas kita adalah menjaga agar anak tidak bersentuhan dengan hal-hal yang berbau seksualitas. Misalnya, walaupun kita tidak bisa mencegah kehadiran internet di tengah keluarga kita, ada baiknya kita menempatkan akses internet itu di ruang keluarga. Dengan begini, secara tidak langsung kita dapat mengawasi dan melihat situs-situs apa saja yang dibuka oleh anak kita. Tontonan dan bacaan pun harus benar-benar diarahkan sehingga mencegah singgungan yang lebih besar terhadap hal-hal yang berbau seksulaitas.

Mengingat betapa dahsyatnya sensasi rasa yang ditimbulkan oleh pandangan atau tatapan mata, Al Quran telah lebih dahulu  mengingatkan umatnya. Dalam salah satu ayatnya, Allah bersabda:

“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman:”Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya,  yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”. (QS. 24:30)

Dan ayat ini diperkuat dengan hadits berikut ini:

Wahai Ali, janganlah pandangan pertama kau ikuti dengan pandangan berikutnya. Untukmu pandangan pertama, tetapi bukan untuk berikutnya.” (HR. Abu Dawud, dishahihkan oleh Al-Hakim sesuai dengan syarat Muslim)

Sebegitu detailnya Allah menjelaskan hal-hal seperti ini, maka masihkah kita mengabaikan  perintah Allah ini?

Oleh karenanya, kita harus mengajarkan pada putra-putri kita arti rasa kepuasan dan kebanggaan atas prestasi yang dicapai, dorong anak untuk mengembangkan ilmu dan bakatnya sehingga mampu melahirkan anak-anak yang mengalami sensasi rasa puas dari proses belajar dan prestasi, bukan dari hubungan antara laki-laki dan perempuan.

Dukunglah gerakan pelajar berprestasi demi masa depan lebih baik dan terarah. Amin.