source: bloggersragen.comEntah apa yang membuat sosok Fathiyah begitu diminati pemirsa setia sinetron ini. Apa karena keanehannya? Atau karena keluguannya? Mungkin juga karena kelucuannya? Yang pasti, anak-anak sangat menyenangi sinetron ini. Tidak hanya putraku saja ternyata. Hampir semua anak-anak rekan kerjaku menyukai sinetron ini.

Saya, selaku orang tua, tentu saja harus ikut menonton apa yang anak saya tonton. Setidaknya saya bisa mencari tahu apakah tayangan itu masih layak tonton atau tidak. Atau, walaupun tidak layak, minimal saya harus bisa mengarahkan makna dibalik setiap adegan atau dialog yang diucapkan.

Pernah suatu ketika, anak saya cerita.

Katanya: “Mama, tahu ga kenapa Fathiyah itu jadi kuat?”

Saya: “Ga tahu nak. Kenapa emangnya?”

Katanya lagi: “Soalnya bulu ketiaknya banyak ma! Aku mau dong ma punya bulu ketiak banyak. Biar kuat kayak Fathiyah!”

Saya pun kebingungan sambil bilang: “Waduh, nak. Itu kan cuma cerita. Bohongan itu.”

Jawabnya: “Oh, gitu ya, ma.”

Akhirnya, saya pun penasaran kenapa anak saya suka sekali menonton Fathiyah. Dia bilang Fathiyah itu keren. Bisa melakukan apa saja. Bisa jatuhin pohon. Bisa berteman sama hewan. Bisa jungkir balik. Bisa main bola. Bisa bilang “aaauuuuuuooooooo”. Hahaha…lucu ternyata. Alasan yang mugkin sangat biasa bagi orang dewasa seperti kita, tapi itulah yang ada di pikiran anak kecil. Mereka suka dengan sosok atau tokoh yang bisa melakukan hal-hal yang luar biasa.

Sepertinya anak-anak sangat butuh tokoh hero atau kepahlawanan dalam kehidupan mereka. Dan pihak pembuat sinetron ini mampu memanfaatkan kebutuhan anak-anak itu dengan menayangkan sinetron yang berbau komedi dan kepahlawanan itu melalui sosok Fathiyah, si tarzan cantik. Namun, kadang memang ada adegan atau ucapan-ucapan yang kurang pas dikonsumsi oleh anak-anak. Bahkan kadang terselip juga adegan kekerasan. Ucapan Fathiyah yang suka dibolak-balik susunannya pun dikhawatirkan akan merusak tatanan tata bahasa Indonesia yang baik dan benar. Walaupun memang kalimat yang dibolak-balik itu belum terlihat mempengaruhi ucapan putra saya, setidaknya patut lah kita berwaspada. Sehingga orang tua harus benar-benar bisa memberi pengertian pada putra-putri mereka.

Melihat banyaknya anak-anak sebagai penikmat sinetron, saya berharap ada pihak-pihak pelaku seni yang mampu memberikan tayangan untuk anak-anak yang pure berkisah tentang dunia anak-anak tanpa ada embel-embel kekerasan atau pun dialog-dialog yang tidak pantas.

Semoga di kemudian hari, ada pelaku seni yang benar-benar memperhatikan kebutuhan anak-anak akan tontonan yang menuntun dengan segala keluguan dan sikap ingin tahu yang besar dari mereka.