Perkenalan pertamaku dengan makhluk yang bernama kompasiana bukanlah sebuah kesengajaan. Bukan pula hal yang direncanakan. Tapi datang dari rasa penasaran. Saat itu saya mengikuti sebuah pelatihan bagi guru yang judulnya “guru ngeblog“. Dari judulnya saja saya sudah sangat tertarik. Kebetulan saya sudah memiliki blog, tapi masih belum tahu harus menulis apa. Kadang-kadang ide menulis stuck dan meninggalkan entah kemana. Nah, dengan ikut pelatihan itu, saya berharap bisa memicu dan mentrigger saya untuk menulis kembali. Minimal bisa mencari tahu bagaimana caranya mengundang ide untuk datang menghampiri kita.

Singkat cerita, para pemberi materi menyampaikan bahwa mereka pun menulis di kompasiana. Apa pula itu? Kesan pertama saya, pasti tuh makhluk ada hubungannya dengan koran kompas yang tenar itu. Dan saya pun langsung ciut. Wah, kalau saya mana mungkin bisa nulis di kompasiana? Pasti yang ditayangkan di kompasiana adalah tulisan-tulisan keren milik penulis-penulis senior atau paling tidak memang si penulis adalah wartawan. Sehingga perkenalan pertama saya dengan kompasiana tidak terlalu menimbulkan kesan berarti. Dengan kata lain, saya cuek saja. Saya berniat fokus menulis di blog saya saja.

Di kesempatan pelatihan lanjutan, saya sempat melihat tulisan seorang kawan yang dishare di facebook IGI Bekasi. Tapi yang membuat saya tertarik adalah postingan itu ditulis di kompasiana! Kontan saja saya penasaran. Koq bisa ya tulisannya masuk di kompasiana? Akhirnya saya membacanya dan terbukalah situs kompasiana yang menantang itu. Saya pun langsung mencari tanda-tanda bagaimana caranya masuk ke kompasiana. Dan ternyata sangat mudah, saudara-saudara. Cukup registrasi saja, dan voila! Kita bisa langsung punya akun di kompasiana dan bisa langsung menulis pula! Mantap!

Saya pikir kompasiana itu sama dengan blog kroyokan lainnya. Sebelum tulisan kita muncul, maka tulisan harus masuk ke pihak admin untuk diverifikasi. Tidak demikian halnya di kompasiana. Cukup masuk ke menu “tulisan baru“, pilih “Post Rubric” nya dan “Post Type” nya, klik “Publish”, maka secara otomatis dan tidak perlu menunggu admin, tulisan kita akan langsung muncul di kompasiana. Keren kan? Cepat dan Mudah!

Sejak mulai menulis di kompasiana, saya mulai ketagihan. Apalagi ketika tulisan kita banyak dibaca orang, bahkan sampai dikomentari. Senangnya pool! Bagaimana tidak? Ketika kita membuat tulisan, tentu saja kita berharap orang lain akan membaca tulisan kita, bukan? Rasa senang saya tak terbendung ketika satu saat tulisan saya masuk HL! Awalnya saya tidak terlalu aware dengan istilah-istilah yang ada di kompasiana. Saya pikir cukup menulis, tulisan kita muncul, thas’s it. Ternyata di kompasiana ada yang namanya HL, a short for Head Line, ada Highlight, ada Terrekomendasi, dan TER TER yang lain. Dan ternyata, kalau tulisan kita bisa dipajang disalah satu bagian tersebut, itu tandanya, admin menilai tulisan kita layak menjadi headline sehingga bisa ditayangkan selama berjam-jam dan menarik lebih banyak orang untuk membacanya.

Wah, asyiknya ya nulis di kompasiana. Hampir seperti candu. Tiada hari saya lewatkan tanpa berkunjung ke kompasiana. Menulis dan membaca tulisan sesama kompasianer (istilah untuk individu yang memiliki akun di kompasiana) lainnya. Ada kepuasan batin di sana. Walaupun tujuan kita menulis bukan karena ingin masuk di HL atau kolom-kolom TER lainnya, namun pasti ada rasa bangga dan puas ketika bisa masuk ke salah satu kolom tersebut. Tapi saya tetap berpegang teguh bahwa menulis adalah sebuah hobi, sebuah ajang untuk berbagi. Jadi tidak menjadikan HL atau TER sebagai tujuan. Itu hanyalah efek pendamping pada tulisan kita. Dengan bisa berbagi melalui tulisan, kita telah membuat perubahan pada dunia.

Ayo kawan, bergabunglah di kompasiana, dan tunggu keajaiban apa yang bisa kita dapatkan setiap harinya. Tidak hanya komentar-komentar membangun, tapi juga kita memiliki teman-teman baru yang memiliki passion yang sama dalam hal tulis-menulis.

Salam Kompasianer!