Membaca tulisan mba Ella Zuleha yang bertajuk “Wow..Pengemis Aja Pake Blackberry”, saya jadi teringat dengan kisah tentang pengemis. Entah saya membaca dari mana, saya sudah lupa. Karena sudah cukup lama juga.

Begini kisahnya…(tidak sama persis dengan yang pernah saya dapatkan, hanya secara garis besar demikian ceritanya)

Suatu hari di sebuah warung makan padang, ada seorang manajer yang sedang menikmati makan siangnya. Saat itu datanglah si pengemis yang akan makan siang di tempat yang sama. Melihat seorang pengemis kumal makan di tempat yang sama dengannya, si manajer ngerasa keki juga. Penasaran, diajaklah si pengemis itu ngobrol.

Manajer: Wah, bapak makan di sini? Koq anak istrinya ga diajak pak?

Pengemis: Tempat langganan saya nih mas. Anak istri saya lagi belanja di mall.

Manajer: Koq bisa?

Pengemis: Maksud si mas? Saya tidak mampu gitu kasih uang buat anak istri saya ke mall?

Manajer: Maksud saya….

Pengemis: Sekarang saya balik tanya ke mas. Gaji mas berapa sebulan?

Manajer: 5 juta

Pengemis: Mau tau penghasilan saya mas?

Manajer: (hanya mengangguk)

Pengemis: Dalam sekali lampu merah, saya bisa mendapatkan 2000 rupiah. Durasi lampu merah sekitar 1 menit. Maka dalam waktu 60 menit, minimal ada 30 menit lampu merah. Sehingga penghasilan saya per jam adalah 6000 rupiah. Saya bekerja 10 jam sehari, sehingga dalam sehari saya bisa mendapatkan 600000 rupiah. Dalam sebulan saya bekerja selama 24 hari, maka penghasilan saya sebulan adalah 14.400.000 rupiah.

Manajer: “……………”

Kalau kita menghitung secara kasar, itulah yang didapatkan dari seorang pengemis. Ternyata penghasilannya jauh melebihi seorang manajer sekalipun. Itu pun mereka tidak dipotong pajak penghasilan. Pantas saja semakin banyak orang yang berminat menjadi pengemis. Sampai-sampai dibela-belain datang dari kampung mengadu nasib di ibukota.

Bagaimana? Anda berminat menjadi seperti mereka?🙂

Salam Humor…