Masih sangat hangat perbincangan masyarakat terhadap tragedi berdarah di tugu tani. Tidak pernah terbersit sedikitpun di hati para korban, bahwa di tugu tani, nyawa mereka direnggut paksa. Di hari minggu ceria, ruh para korban harus meninggalkan jasadnya, jasad yang masih belia. Bahkan ada seorang janin yang belum sempat menghirup udara di dunia, harus pula kembali ke surga, menemani sang bunda yang membawanya kemana ia pergi.

Maut memang takdir ilahi. Allah telah menetapkan kapan dan bagaimana kita berakhir. Namun, jika penyebab kematian adalah kelalaian dari manusia lainnya, alangkah tragisnya. Harus disadari bahwa semua takdir yang ditetapkan ilahi juga ada campur tangan manusia. Artinya, bahwa manusialah yang harus menata hidupnya dengan benar sehingga tidak terjadi kesalahan-kesalahan yang berakibat fatal.

Nyawa memang telah melayang. Tidak ada harga yang bisa menggantikan nyawa-nyawa yang telah pergi itu. Tidak pula uang jutaan rupiah yang disinyalir akan diberikan bagi keluarga korban. Akankah uang dapat menghapus rasa perih orang yang ditinggalkan? Akankah uang akan bisa menggantikan rasa bersalah si pelaku?

Patutlah direnungi oleh para pelaku dan para pengendara lainnya. Ketika nyawa terenggut, Anda tidak bisa mengembalikan kehidupan mereka. Tidak dengan uang, tidak pula dengan penyesalan. Hidup bukan melulu tentang diri Anda, hidup juga tentang orang lain. Maka hindari sikap egois di jalan raya, seolah-olah jalan milik Anda seorang.

turut berduka cita atas meninggalnya 9 korban kecelakaan maut-penulis