Seorang siswa menghampiriku…

“Mam Nung, kenapa?” Pertanyaannya kujawab dengan semakin derasnya air mataku mengalir. Bukan saja air mata, namun dadaku makin terasa sesak. Hingga aku tak mampu menatapnya. Aku hanya bisa berisak tangis.

“Mam Nung ada apa sih? Cerita donk? Aku jadi sedih juga nih?” muridku masih berusaha mengajakku bicara. “Gak apa apa”, jawabku singkat sambil masih sesegukan. Bahkan sesak di dada semakin menghimpit. Aku butuh bahu untuk bersandar. Semakin dia mendesak akhirnya aku tak sanggup, dan memeluknya. Bahunya menjadi tumpuanku melepas rasa sesak di dada. Jilbabnya basah oleh air mataku yang tak henti mengalir.

“Ayo dong, Mam! Cerita…” desaknya lagi. Kali ini aku menjawabnya singkat sambil terisak. “Saya capek. Rasa-rasanya ga kuat.” Aku pun lunglai. Tidak sanggup melanjutkan. Akhirnya muridku berusaha menenangkan saya.

“Mam Nung harus kuat. Mam Nung bisa kuat, koq. Kan biasanya juga Mam Nung yang nguatin aku. Aku masih bertahan di sekolah ini juga karena Mam Nung. Jadi kalau Mam Nungnya ga kuat, siapa yang nguatin aku dan anak-anak yang lain, Mam? Terutama ya kuat untuk Rayhan, Mam. Kasian Rayhan kalau Mamnya sedih kayak gini..”

Saya tahu. Apa yang diucapkannya benar adanya. Saya harus kuat. Demi anak saya dan murid-murid saya. Tapi saat itu saya sangat lelah. Butuh pegangan dan bahu untuk bersandar. Butuh orang lain hanya untuk menenangkan saya. tak butuh ucapan atau perkataan apapun. Cukup ada di sana untuk saya. Meminjamkan bahunya dan telinganya untuk saya.

Kadang seorang guru pun merasakan suatu beban yang menghimpit dada. Mengalami tekanan yang sulit dikendalikan. Mungkin dengan menumpahkan air mata, sedikit beban ini akan terluapkan hingga mengurangi sesaknya dada yang butuh udara.

Saya rasa guru juga boleh menangis…karena seperti Anda dan kalian, guru pun manusia biasa…