Siang kemarin, saya bertemu dengan seorang alumni, murid saya yang sekarang kuliah di jurusan psikologi. Setelah ngobrol ngalor ngidul, dia menawarkan saya untuk ikut hipnoterapi, free of charge! Kebetulan dia sedang mencoba mengambil CHT (Certificate of Hypnotherapy) dan mewajibkannya mencari minimal lima kasus yang harus ditangani untuk bisa lulus dan mendapatkan sertifikat tersebut.

Saya pun antusias dan menawarkan putra saya untuk dihipnoterapi. Tapi saya sendiri bingung. Apa sih hipnoterapi itu? Dia pun dengan sangat bersemangat menjelaskan pada saya bahwa hipnoterapi adalah terapi psikologis yang memanfaatkan alam bawah sadar manusia atau melalui hipnotis. Biasanya hipnoterapi ini akan membawa kita ke kejadian yang memicu perilaku yang tidak normal, entah secara emosional atau pun secara psikis.

Ada satu kasus yang pernah ditangani melalui hipnoterapi yaitu anak yang hiperaktif. Sang ayah awalnya bingung dan bertanya-tanya mengapa anaknya bisa hiperaktif. Setelah ditelusuri, sang ayah ingat bahwa dia pernah melakukan hal buruk pada istrinya ketika ia sedang mengandung anaknya tersebut. Akhirnya, sang ayah pun berusaha untuk mengembalikan alam bawah sadar si anak ke masa ketika ia masih dalam kandungan dan berusaha untuk meminta maaf pada anaknya atas apa yang pernah dilakukannya saat itu. Dengan bantuan hipnoterapi, si anak kemudian memaafkan ayahnya melalui alam bawah sadarnya. Sejak itu, anaknya berubah menjadi pribadi yang normal dan tidak hiperaktif lagi.

Kasus tersebut hanyalah satu contoh dari banyaknya kasus kesalahan pengasuhan anak. Karena memang, perkembangan jiwa anak sudah mulai tumbuh sejak ia masih dalam kandungan. Maka ketika ada satu masalah yang dialami sang anak, bisa jadi masalahnya justru berpangkal dari orang tuanya sendiri. Bahkan akhirnya yang harus diterapi kadang orang tuanya tersebut. Namun, menurut penuturan murid saya tersebut, hipnoterapi tidak akan berjalan mulus jika si pasien membentengi dirinya dengan kuat, atau menolak untuk mempercayai apa yang dilakukan via hipnoterapi tersebut. Jadi, harus ada kepercayaan dari diri si pasien untuk mau memperbaiki dirinya ke arah yang lebih baik.

Belajar dari pengalaman itu, saya pun merasa bagaikan disentil. Saya mengalami masa-masa sulit dan depresi yang berat ketika saya mengandung putra saya. Emosi yang tak terkontrol terkadang menghinggapi saya terutama ketika kandungan saya sudah masuk pada tri semester ketiga. Saya merasa apa yang dialami putra saya sekarang adalah kesalahan saya. Maka, dengan berbagai cara, saya pun akan berusaha untuk memperbaiki apa yang telah terjadi, walaupun ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan. Saya rasa program hipnoterapi ini bisa menjadi salah satu solusi untuk permasalahan yang saya hadapi.Namun, karena saat ini putra saya dan saya sedang dalam terapi oleh seorang psikolog, maka hal itu tidak bisa dilakukan. Karena dikhawatirkan akan terjadi bentrokan terapi antara dua profesional. Sehingga hipnoterapi ini harus dilakukan sebagai single solution at one time.

Saya rasa hipnoterapi bisa menjadi satu alternatif pilihan untuk bisa memperbaiki satu perilaku yang tidak biasa. Entah perilaku karena pobia akan sesuatu atau perilaku yang unik lainnya, yang cenderung negatif, yang memang butuh bantuan terapi untuk penyelesaiannya.