nice view, rite? :)Nama yang asing. Baru ketemu jam 3 sore setelah 6 jam perjalanan! Hampir mengelilingi gunung salak dari ujung timur ke ujung barat. Seandainya kami tak membutuhkanmu, aku rasa tak kan pernah kami menjamah dan menjejakkan kaki kami di tanahmu, yang lembab karena dingin, yang becek karena hujan!

Perjalanan yang sangat amat melelahkan. Kami hanya mendapatkan informasi sedikit. Alamat lokasi homestay yang bisa didatangi adalah garehong, cianten (perkebunan teh). Letaknya di kaki gunung salak. Namanya kaki, pasti posisinya di bawah donk. Itulah yang ada di otak kami semua. Tenang aja, kaki gunung salak mah deket, kata saah seorang dari kami.

beautiful winding roadπŸ™‚

Tanpa guide, yang di detik-detik terakhir keberangkatan membatalkan niatnya, kami pun melaju ke lokasi. Satu mobil kijang, isi delapan kepala. Sempit? tidak juga. Hanya sedikit terasa penuh aja.πŸ™‚ Di titik berangkat, cuaca cerah. Memasuki kota bogor, hujan gerimis mulai menyambut kami. Entah karena tidak memperhatikan atau apa, kami salah jalan. Salah yang berakibat parah. Lokasi yang dituju berada di posisi yang antah berantah.

Terlanjur salah, kami pun tetap menelusuri jalan. Berharap akan ketemu jalan keluar ke arah yang kami maksud. Berjam-jam di mobil, dengan jalan yang berbelok-belok, kami merasa hutan dan gunung tiada habisnya. Sambil meraba jalan dan bertanya, sampailah kami di tujuan. Ternyata, cianten berada jauh di atas kaki gunung! Bahkan saya rasa sudah berada mendekati puncak gunung dengan ketinggian 900 meter di atas permukaan laut. Dari kaki naik sampai ke leher!

Kelelahan kami terbayarkan setelah berhasil mencapai lokasi. Indah, sejuk, nyaman dan tentram. Itulah perkebunan cianten. Perkebunan yang merupakan milik dari PT. Nusantara VIII. Berbicara dengan salah satu pengurus RW pondok pel (istilah kampung di sana), kami pun menyampaikan maksud kedatangan kami. Diterima dengan hangat, sehangat teh manis yang disediakan, kami pun langsung merencanakan bagaimana prosedur permohonan ijin melaksanakan program homestay di wilayah mereka.

Cianten, yang merupakan daerah perkebunan nusantara, memang didesain sebagai perkampungan warga yang sebagian besar warganya bekerja sebagai pemetik teh. Berada di hampir mendekati puncak gunung, desa ini cukup terpencil dan tak terdeteksi oleh pandangan mata kita karena terhalang oleh perkebunan teh. Bahkan, perjalanan dari desa ke poncok pel itu memakan waktu sekitar 1 jam! Hingga banyak kegiatan yang hanya memungkinkan bisa dilakukah sebulan sekali, yaitu berbelanja kebutuhan pokok masyarakat, seperti sayur mayur, lauk-pauk, dll.

Satu lagi yang perlu diperhatikan ketika kita berkunjung ke cianten adalah tidak adanya sinyal handphone! Berhubung jalan yang kami lalui sangat berliku dan berkelok-kelok, di tengah lautan pepohonan, maka tidak ada sinyal yang mampu mengisi kekosongan jaringan. Anyway, di luar keterpencillan dan ketidakhadiran sinyal hpnya, cianten termasuk wilayah yang pas dan layak untuk dijadikan tempat belajar menimba ilmu-ilmu sosial.

Diakhir perjalanan, kami masih memiliki satu misi tambahan. Mencari makan! Saking kita tidak pernah ke luar dari wilayah hutan dan pegunungan, tak satupun kami temukan rumah makan yang representatif. At the end, makan siang kami dijama’ dengan makan sore, seperti halnya kami menjama sholat. Alhamdulillah, kami masih sehat dan kuat sehingga kami pun melajutkan perjalanan menutup acara survey ini dengan perasaan lega dan laper! :p

Dihitung-hitung, perjalanan pp bekasi-cianten-bekasi butuh sekurangnya 12 jam! Namun, lokasi yang lumayan bagus dan cocok dengan harapan kami itu mampu menghilangkan kepenatan, kelaparan dan kekhawatiran setelah menempuh jalan hampir enam jam memutari gunung salak tanpa makan siang!

Kami menantikan untuk kembali menjambangimu, cianten!πŸ™‚