Tak habis pikir saya dengan persinetronan Indonesia. Seolah-olah ingin mengambil hati para pemirsa TV yang rata-rata adalah orang awam dan notabene muslim, para produser sinetron pun berlomba-lomba menyuguhkan program yang mampu menarik perhatian masyarakat. Sampai-sampai kadang saya mempertanyakan dasar dari dibuatnya sinetron-sinetron tersebut.

Baru-baru ini saya menonton sinetron “tendangan si Madun”! Dari judulnya, pasti pemirsa pun bisa menebak bahwa kisahnya akan berkisar tentang bola. Tema yang sangat menarik tentu saja, karena banyak masyarakat Indonesia yang sangat menggilai bola, termasuk anak-anak. Tidak beda dengan putra saya. Sebagai penggemar bola, dia selalu menantikan tayangan tersebut.  Akhirnya saya mencoba ikut menonton seperti apa jalan ceritanya.

Sinetron tersebut mengisahkan seorang anak ustadz, si Madun, yang dilarang keras oleh ayahnya bermain bola. Ayahnya berharap bahwa ia bisa menjadi seorang ustadz pula mengikuti jejaknya. Namun, karena keahliannya, Madun akhirnya mencuri-curi waktu agar bisa tetap bermain bola. Kebetulan ibunya mendukungnya. Sehingga kadang-kadang, di belakang ayahnya, Madun tetap bermain bola, walaupun di depan ayahnya, Madun berusaha mengikuti kemauannya.

Nah, dari episode-episode awal itu saja, sudah mulai muncul pertanyaan-pertanyaan di benak saya. Pertama, apakah benar bermain bola atau menjadi pemain bola merupakan hal yang sia-sia? Lalu jika hal tersebut tidak ada manfaatnya, kenapa pula Allah menciptakan pemikiran-pemikiran manusia hingga pada akhirnya mampu menciptakan permainan sepakbola tersebut? Kedua, apakah di dalam ajaran Islam diperbolehkan perempuan bermain bola? Di sinetron itu juga ditayangkan bahwa pelatih bola si Madun adalah seorang perempuan berjilbab dan berprofesi sebagai guru agama. Bagaimana hukumnya perempuan yang bermain permainan laki-laki? Apakah ini yang dinamakan emansipasi perempuan? Ketiga, apakah dibenarkan bagi seorang anak tidak patuh terhadap larangan orang tua dan menyelinap pergi demi mengikuti hasrat hatinya (dalam hal ini bermain bola)? sementara larangan itu bukan yang berhubungan dengan hukum Islam? Keempat, pantaskah seorang guru agama wanita berjilbab memakai pakaian ketat ketika sedang melatih anak-anak didiknya?

Kadang para produsen sinetron kurang memikirkan dampak dari tayangan atau program tv yang di buatnya. Secara sekilas, tema tentang bola yang diusung memang bagus, bahkan diharapkan dapat menimbulkan minat bermain bola di kalangan anak-anak untuk semakin menggali bakat dan minat mereka serta mampu menjadi saringan bagi anak-anak atau remaja yang benar-benar kompeten bermain bola. Namun, ketika banyak hal ganjil yang akan membingungkan masyarakat, saya rasa tayangan-tayangan sejenisnya tersebut harus melalui proses persetujuan dari berbagai kalangan masyarakat, termasuk para ahli agama, sehingga kita tidak salah kaprah mengartikan makna atau lakon cerita yang kita tonton.

Saya rasa hal seperti ini harus sudah menjadi agenda pertimbangan para produsen sebelum membuat program TV yang bagus dan berkualitas. Tema yang tidak menimbulkan kesalahan fatal yang bisa saja diikuti oleh penonton setia mereka. Untuk itu, alangkah baiknya jika produsen dan stasiun TV saling share tentang tema apa atau dialog apa yang layak digunakan. Demikian halnya untuk para orang tua agar mampu memilah dan memilih tayangan yang layak tonton bagi putra-putri kita. Kalaupun harus menontonnya, maka minimal orang tua harus mendampingi mereka untuk bisa memberi pengarahan terhadap isi atau jalan ceritanya. Bahkan sempat muncul pertanyaan dari putraku “ma, mama akan melarang aku main sepak bola tidak?” Karena saya tahu, putra saya hobi bermain dan menonton tayangan bola, maka saya menjawab “tidak”. Saya akan mengijinkan dia walaupun mungkin dengan persyaratan bahwa hal lain yang lebih penting sebagai pelajar dapat tetap dijalani tanpa dikucilkan.

Semoga ada pihak yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan saya seputar bola, jilbab dan agama….