Hari pertama masuk sekolah di tahun dua ribu dua belas disambut dengan gerimis kecil dan udara dingin. Tak ingin menggigil kedinginan, kuambil jaket merah terangku yang masih baru…hadiah dari membeli motor baru. Yah, walaupun motornya tak berani ku kendarai, minimal jaketnya aku pakai dong? hehhe….. Menggantungkan tas selempangku yang berwarna hijau pupus senada dengan warna seragamku, aku berjalan tegap. Sangat antusias menyambut hari baru di pagi haru, yang masih menitikkan air-air hujan seolah dunia sedang dirundung mendung mendalam…

Langkahku tegap, setegap tiang listrik. Senyumku mengembang selebar kembang setaman. Ayunan langkahku berirama bak alunan lagu Iwan Fals yang setiap pagi kudengar dari kamar adikku. Diiringi titik-titik air yang jatuh santai dari langit, aku menghirup udara segar, sesegar minum air es di kala terik matahari menyengat kalbu. Hujan yang mengguyur bumi tadi malam, cukup membuat jalan menjadi tergenang air, dengan warna coklat keruh karena tercampur dengan tanah yang terbawa oleh sandal dan sepatu para penghuni dunia.

Akupun melangkah bersilangan sambil menghindari genangan air yang akan mengotori sepatuku yang baru dicuci bersih, sebersih sepatu yang baru keluar dari boxnya. Atau bahkan menodai seragamku yang masih wangi dari larutan pewangi yang kurendamkan saat mencucinya.

Sekitar 5 menit berjalan, sampailah aku di gerbang sekolah yang tinggi dan berdiri dengan megahnya ditengah-tengah perkampungan kecil yang sekarang sudah mulai ramai dikunjungi pendatang dari pelosok negeri. Mengambil kartu absen yang sudah berdiri rapi menanti setiap pemiliknya, aku pun mencari milikku, yang bertengger anggun di antara kartu-kartu berwarna putih lainnya. Dia masih kaku, putih dan segar karena baru mengawali harinya pagi ini. Lihat saja dia nanti setelah tiga bulan, si putih kecil akan berubah menjadi si lusuh berwarna coklat yang dipenuhi dengan angka-angka berwarna hitam dan bisa berubah merah jika ia terlambat dihampiri si empunya kartu.

Bertemu dengan wajah-wajah ceria yang tak sabar bertemu dengan kawan-kawan dan kursi kesayangan mereka, aku ikut tersenyum kecil. Betapa indahnya pagi ini terlepas dari rintik hujan dan udara yang dingin. Namun, melihat keceriaan terpancar di makhluk-makhluk mungil dan remaja-remaja ceria, serasa dunia sehangat dan semanis teh manis di pagi hari.

Tiba di sekolah, senyuman hangat murid-muridku menyambutku. Senyum tak berhenti terkembang hingga memasuki ruang kantor yang masih sepi dan senyap. Kujumpai dua orang rekan yang sedang berbincang di salah satu meja, entah membahas apa. Kusapa mereka, kuberi senyuman terindahku, ku menjabat tangan sang rekan wanita. Aku pun menyimpan tas hijau pupusku dan bergerilya mencari pengganjal perut. Aku baru menyadari ternyata aku belum sempat memasukkan satu sendok makanan ke dalam rongga perutku yang mulai memanggil karena perihnya.

Menyebrang ke gedung tetangga, aku menyapa rekan-rekan yang lain yang lumayan lebih banyak di banding kantorku tadi. Untung sekali diriku saat ada rekan yang menawari berbagi sarapan dengannya. Alhamdulillah, ternyata Allah selalu mendengar harapan hamba-Nya. Dengan lahap, ku habiskan sarapanku yang lezat dan gratis itu!🙂 Wah, nikmat Allah yang manakah yang kau dustakan? Kalau ingat makna surat arrahman itu, kita pasti tidak akan pernah lupa untuk selalu mensyukuri nikmat setiap saat dan setiap waktu sepanjang hembusan nafas masih bisa kita rasakan.

Waktu menunjukkan pukul tujuh. Saatnya kembali ke kantorku untuk memulai aktivitas pertamaku di tahun ini. Diawali dengan briefing dan doa, aku pun menuju ruang pertamaku untuk memotivasi anak-anak asuhanku. Ya, sebagai wali kelas, aku harus selalu memotivasi mereka untuk selalu menyambut hari dengan senyuman dan semangat pagi yang tak pernah pupus. Maklum, kadanag hari pertama setelah liburan panjang bisa membuat anak terbawa hawa liburan yang bermalas-malasan.

Selanjutnya, waktuku dikerahkan untuk memulai kelas pertamaku di semester kedua ini. Memasuki kelas, aku hanya disambut oleh segelintir anak. Ada sejumlah 12 orang anak saja di ruang kelas. Usut punya usut ternyata sebagian besar dari mereka sudah memulai praktek kerja lapangan mereka di perusahaan-perusahaan mitra sekolah. Sepi memang, bahkan seolah-olah kehilangan energi motivasi yang cukup besar di kelas. Jika aku tak bisa mengembalikan motivasi mereka, bisa-bisa aku ditemani oleh suara-suara hembusan nafas yang teratur, alias suara tidur! Didukung dengan hawa yang sejuk dan dingin, rasa kantuk memang menjadi kendala terbesar bagi anak-anak. Berat rasanya membuka mata yang memang kadang tidak bisa diajak kompromi. Akhirnya, aku mengajak mereka melantai, duduk di lantai bersama membentuk lingkaran kecil. Dengan begini, aku bisa mengontrol dengan dekat dan bisa membangkitkan semangat pagi mereka yang sempat kendor karena berkurangnya jumlah rekan mereka dan cuaca yang mendukung untuk memejamkan mata.

Tak jauh beda di kelas berikutnya. Hanya 11 siswa yang ditemukan di sana. Kadang berasa miris juga kalau siswa yang kita ajarkan hanya sebagian kecil dari jumlah normal. Namun, apa mau dikata. Sebagai sekolah kejuruan, mereka harus mendapat pengalaman lapangan yang dapat memberikan kontribusi besar terhadap skill atau keahlian mereka. Sehingga terkadang, ilmu lainnya dapat menunggu dan bersabar untuk kembali dinikmati oleh para pencari ilmu tersebut.

Suasana siswa yang hanya sebagai kecil dari normal, sedikit banyak memang mempengaruhi gaya belajar dan metode yang kita gunakan. Tentunya akan sangat mudah menangani jumlah siswa yang sedikit. Aku bisa lebih fokus dan anak bisa mengalami setiap aktivitas pembelajaran dengan maksimal. Namun, kadang terasa ada yang kurang. Kurang greget, kurang ramai, kurang semangat, kurang energi!

Anyway, sedikit atau banyak, tak seharusnya memang mengurangi semangat aku mentransfer ilmu atau memberikan fasilitas pengalaman belajar yang berarti untuk anak didikku. Sebelas atau dua belas hanya berupa angka. Dan angka hanya berupa simbol. Semangat akan tetap sama. Energi harus tidak berkurang. Aktivitas harus lebih bermanfaat. Semoga aku dengan segenap hati dan jiwa mampu menampilkan semangat dan energi yang sama, tak peduli simbol angka yang aku hadapi.

Semoga hari pertama kalian juga semenyenangkan hari pertamaku…:)