Ketika aku memutuskan untuk berpisah dengan mantan suamiku, aku sangat percaya diri. Tidak ada keraguan, tidak ada penyesalan, tidak ada ketakutan. Hidup adalah pilihan bukan? Pilihan ini harus aku jalan dengan segenap hati dan sepenuh jiwa. Maka dengan keteguhan hati dan ketekadan yang bulat aku melangkah maju, menjalani kehidupan yang akan aku hadapi ke depannya. Bersama buah hatiku.

Maka mulailah babak baru kehidupanku sebagai seorang single parent bagi putraku yang saat itu baru berusia 6 bulan. Aku pun mulai menata kembali hidupku yang sempat hancur. Tinggal kembali bersama ibu dan adik bungsuku, aku seolah mendapat kekuatan tambahan dari mereka, terutama ibuku.

Demi menghidupi putraku, aku harus kembali bekerja setelah vakum selama mengandung dan melahirkan. Aku pun mengajar kembali di sekolah yang sangat dekat dengan rumahku, bahkan aku cukup berjalan kaki untuk sampai ke tempat kerjaku. Berhubung neneknya sudah agak sepuh dan pernah mengalami stroke, maka aku harus membawa putraku bekerja. Untungnya, di yayasan tempat aku bekerja, ada tersedia sarana penitipan balita. Maka setiap harinya aku harus membangunkan putraku pagi untuk aku rapihkan dan aku titipkan ke SPB tersebut. Ada sekitar 20 anak yang dititipkan disana. Awalnya aku sedikit merasa bersalah, karena aku tidak bisa menemani buah hatiku 24 jam. Tapi demi dia juga, aku harus bekerja. Walaupun aku harus bolak-balik dari sekolah dan SPB untuk menyusui anakku, tapi aku melakukannya dengan senang hati. Tidak ada kendala berarti sepanjang putraku di SPB. Pernah memang putraku sakit flek, dan butuh pengobatan selama 6 bulan. Namun, itu pun tidak membuatku sedih atau menyesal harus menanggungnya sendirian.

Hingga pada saat usianya menginjak 3 tahun, ada sedikit kekhawatiran menghantuiku. Putraku termasuk anak yang terlambat bicara. Hingga dia masuk ke taman kanak-kanak, kemampuannya berbicara masih dianggap kurang. Sempat aku dipanggil oleh pihak sekolah karena masalah ini. Aku diminta melakukan terapi untuk putraku, namun karena kendala keuangan, aku hanya membawanya ke dokter anak yang memang menangani putraku sejak dia sakit flek. Menurutnya, hal tersebut masih wajar. Dan aku pun sedikit lega ketika bertanya ke banyak orang mengenai hal itu, dan mereka meyakinkan diriku bahwa hal itu akan segera berkembang pada saatnya nanti. Aku khawatir bahwa kekurangmampuan bicaranya dipengaruhi oleh ketiadaan peran seorang ayah.

Pada akhirnya, putraku lancar berbicara di semester keduanya di TK dan mampu mengikuti pelajaran dengan cukup baik walaupun ada masalah emosional yang masih kurang berkembang. Singkat cerita, putraku lulus TK dan masuk ke SD yang cukup bagus atas rekomendasi dari sekolah TK nya. Walaupun biaya sekolahnya sangat mahal bagi seorang guru honor sepertiku, namun aku bertekad untuk memberikan pendidikan yang terbaik untuk putraku, sehingga aku berusaha mencarikan dananya.

Akan tetapi kesabaran dan kekuatanku sebagai seorang single parent kembali goyah. Anakku dinyatakan memiliki temper tantrum dimana dia belum mampu mengontrol emosinya. Kadang ia tidak mampu menahan emosinya di sekolah sehingga ia akan berlaku tidak pantas. Hatiku hancur, aku sempat merasa tidak sanggup. Aku merasa ini adalah kesalahanku karena tidak mampu memberikan peran ayah untuk buah hatiku, yang mungkin keberadaanya mampu meredam tingkat emosionalnya. Aku merasa telah gagal menjadi single parent bagi putraku. Ternyata ujian menjadi orang tua tunggal benar-benar berat di saat usia putra kita menginjak usia anak-anak yang sudah mulai mempertanyakan kondisi keluarganya yang tidak lengkap. Kurangnya sosok ayah sepertinya berpengaruh besar pada perkembangan emosi buah hatiku. Menurut psikolognya, ia merasa kurang disayang. Mungkin ia merasa kurang mendapat kasih sayang yang lengkap dari orang tuanya atau lingkungan rumah dan sekolahnya. Aku berusaha untuk tetap mendekatkan putraku dengan ayahnya dan keluarganya. Namun, ternyata tidak ada kelanjutan apapun yang bisa diberikan dari mereka, sehingga aku tetap harus berjuang sendiri dan hanya mendapat dukungan penuh dari pihak keluarga besarku.

Ternyata memang menjadi seorang single parent tidaklah mudah seperti yang aku bayangkan sebelumnya ketika putraku masih balita. Tidak ada kendala berarti saat putra kita masih kecil. Menginjak usia sekolah, putra kita sudah mulai lebih memahami keadaan sekitarnya dan mulai bertanya kenapa. Kadang kejujuran itu menyakitkan, tetapi aku harus menanamkan pada putraku bahwa ia tetap mendapatkan kasih sayang sepenuhnya dariku dan dari orang-orang di sekitarnya. Semoga dengan konsultasi rutin denga psikolog dan terapi yang diterapkan di sekolah, putra ku mampu menghilangkan tempet tantrumnya dan menjadi pribadi yang soleh dengan karakter terbaik yang dapat melekat di dirinya. Amin.

Hanya doa yang aku bisa pinjatkan kepada Rabb yang Maha Pengasih dan Penyayang untuk selalu memberikan kesabaran, kekuatan dan keteguhan hati untuk menjalani pilihan hidupku saat ini.