tidak ada anak nakal

Ada seorang anak SMA, sebut saja namanya si Pulan. Dia anak yang sangat cerdas, menurut pengamatan gurunya. Dia mampu memahami pelajaran dengan cepat dan tepat. Saking cepatnya, kadang dia akan menyelesaikan satu pekerjaan dengan segera pula. Otomatis, sisa waktu kbm akan sangat membosankan baginya. Untuk menyiasatinya, kadang guru akan memberikan tugas tambahan baginya, atau jika dia sedang sangat bosan, maka guru akan membiarkan dia untuk bercerita, karena dia sangat senang berkisah.

Satu saat ada salah seorang guru yang mengeluhkan tentang dia. Si guru merasa anak tersebut tidak suka belajar karena dia sering tidur di kelas, bahkan sering keluar dari kelas dengan alasan ijin ke toilet. Guru lain bahkan ada yang mulai mengecap dia dengan sebutan anak nakal karena berteman dengan kelompok anak yang dicap “anak-anak bermasalah” juga. Walaupun katanya ada bukti bahwa dia membolos. Sementara menurut informasi pembimbingnya, dia sakit.

Ketika saya mendengarnya, saya sedikit merasa aneh dan bingung. Benarkah dia seperti itu? Mungkin kita sebagai guru harus mampu mengoreksi atau mengintrospeksi diri kita sendiri. Sebagai manusia, guru tidaklah sempurna. Demikian pula anak-anak. Maka kita harus selalu belajar bagaimana saling menyempurnakan diri untuk kebaikan bersama. Ketika ada anak yang tidur atau sering ijin ke toilet, kita seharusnya mengajaknya bicara. Adakah permasalahan yang ia hadapai? Ataukah adakah pembelajaran kita terlalu membosankan sehingga minat atau motivasi anak menjadi berkurang?

Saya rasa kita harus berani menghadapi kejujuran dari jawaban anak ketika dia akan bilang bahwa dia merasa bosan di kelas. Maka, pasti ada sesuatu yang sedikit tidak beres dengan cara mengajar kita. Mungkin tidak salah, hanya saja metodenya mungkin kurang tepat sehingga anak kurang termotivasi. Jika seperti ini keadaannya, akanlah sangat tidak fair jika kita hanya menyalahkan anak yang tidur atau sering ijin keluar kelas, dengan mengatakan bahwa anak itu nakal. Anak, seberapapun usianya, akan selalu butuh bimbingan dan motivasi kita. Kalau kita berpikir bahwa anak usia SMA harusnya mengikuti saja bagaimana metode kita mengajar, maka kita belum mampu mengakomodir kebutuhan setiap siswa kita. Karena setiap individu berbeda, kita tentu saja tidak bisa mengharapkan bahwa semua anak adalah anak yang siap dan mampu belajar dalam keadaan apapun. Sehingga kita harus banyak belajar untuk mencari metode-metode baru yang menyenangkan dan membuat anak akan tetap memperhatikan kita.

Pemberian label pada anak pun saya pikir kurang pantas dan mendidik. Tidak ada anak nakal.  Tidak ada anak bodoh. Yang ada adalah anak yang sedang mencoba mencari jati diri dan membandingkan apa yang dia rasakan dan inginkan dengan keadaan yang dia hadapi di sekitarnya.  Ketika ada anak yang sering melanggar peraturan, maka dia sedang menguji perbedaan antara kebebasan dengan kedisiplinan. Tugas kitalah sebagai guru untuk selalu memotivasi dan memberikna masukan positif kepada anak-anak tersebut. Melelahkan tentu saja ketika anak masih mengabaikan kedisplinan, tapi bukankah belajar itu seumur hidup? Bukankah mendidik itu tidak pernah ada istilah berhenti? Jadi sebagai guru kita memang dituntut untuk bersabar dan tidak sampai memberikan label negatif pada anak, karena label akan sangat membekas pada diri anak yang secara tidak langsung akan terekan di alam bawah sadarnya. Kadang ketika anak sudah dicap nakal, maka dia akan bersikap seperti apa yang dilabelkan, menjadi anak nakal. Hal itu yang seharusnya kita hindari.

Untuk itu, sebagai guru, kita harus selalu belajar meningkatkan diri kita demi kemajuan pendidikan karakter anak bangsa dan belajar menjadi guru yang lebih sabar dan tulus menghadapi anak didik dengan berbagai karakter. Karena yang harus kita camkan adalah tidak ada anak nakal ataupun bodoh, yang ada adalah anak dengan kecerdasan berbeda yang harus kita akomodir kebutuhannya secara bijaksana.