source: indonesiatourismmonitor.blogspot.com

Saya masih ingat ketika masa-masa saya SD dulu. Hampir di setiap musim liburan, baik liburan sekolah maupun liburan hari raya idul fitri, keluarga kami selalu menyempatkan dan mengusahakan diri untuk bisa pergi berlibur. Menyempatkan dalam mengisi liburan yang cukup panjang. Mengusahakan dalam artian mengumpulklan uang, mencari alat transportasi yang akan mengangkut kami ke sana, dan memutuskan tempat mana yang akan kami kunjungi. Tentu saja, liburan bagi kami waktu itu adalah tempat wisata berkisar antara Ancol, Taman Mini Indonesia Indah, atau Ragunan. Sebagai bagian dari masyarakat golongan menengah ke bawah, hanya ke tempat-tempat itulah yang dapat kami jangkau. Bahkan, saat itu, berekreasi ke salah satu tempat itu adalah suatu kebanggan tersendiri karena tidak semua orang saat itu bisa pergi berlibur.

Keluarga kami cukup sering pergi rekreasi karena kebetulan almarhum ayah kami adalah seorang sopir angkot, yang notabene memiliki mobil, walaupun mobil angkutan umum. Setidaknya kami tidak perlu mengeluarkan uang lagi untuk menyewa mobil berangkat ke tempat-tempat wisata tersebut. Kadang memang kami menyewa bis jika acara rekreasi itu diperuntukkan untuk seluruh warga kampung dengan sistem iuran per kepala keluarga. Kegiatan seperti ini cukup membuat kami, sebagai anak-anak, senang karena dapat berlibur bersama teman-teman kampung.

Beranjak dewasa, saya dan kakak-kakak saya sudah mulai tidak tertarik untuk pergi ke tempat wisata tersebut. Kami berpikir bahwa kami sudah bosan karena terlalu sering pergi ke sana. Akhirnya tujuan kami berlibur beralih ke daerah puncak Bogor dengan menyewa vila. Hal ini berawal dari satu kakak kami yang sudah menikah. Perkenalan pertama kali kami dengan villa terjadi pada tahun 1996. Saat itu saya masih kuliah. Sejak itulah kami rutin berlibur ke villa, jika tidak setahun sekali, maka kami akan pergi setiap dua tahun sekali, tergantung dari dana yang tersedia. Berekreasi dengan menginap ke villa berlangsung hingga tahun ini (2011).

Waktu bergulir cepat dengan banyaknya dari kami yang menikah dan memiliki anak. Ketika anak beranak pinak semakin banyak jumlahnya, kami mulai berpikir kembali mengenai tujuan tempat liburan kami. Mungkin bagi kami yang sudah dewasa, Ancol dan TMII dan Ragunan adalah tempat-tempat wisata yang terlalu ramai. Namun, bagi putra-putri kami, tentu saja tempat-tempat wisata itulah yang mereka butuhkan. Selain banyak wahana hiburan, terdapat pula banyak jenis permaian yang bisa dimainkan oleh anak-anak. Bagi kita taman mini membosankan, tapi bagi anak-anak kita sebaliknya.

tiket masuk

Maka, hari ini kami, walaupun tidak semua adik berkakak ikut, membawa anak-anak kami ke Taman Mini Indonesia Indah. Kami berangkat dengan 2 mobil. Ada sekitar tujuh anak-anak yang kami senangkan hatinya dengan membawa mereka ke TMII. Dengan biaya tiket masuk gerbang utama sebesar 9000 per orang mulai dari 3 tahun ke atas, dan 10000 untuk tiket mobil, kami sudah bisa menikmati suasana ramai namun teduh dan hangat itu. Kami mencari spot untuk menikmati makan siang yang sangat sederhana dengan parkir gratis! Kami parkir di spot dekat dengan peminjaman becak mini. Karenanya, selesai makan, anak-anak langsung menyerbu petugas penyewaan becak untuk mereka mainkan. Senangnya melihat wajah berseri-seri mereka. Betapa kadang kami, orang dewasa, sangat egois mencari tempat liburan, yang hanya mementingkan kenyaman kita sebagai orang dewasa tanpa mempertimbangkan keinginan anak sesunguhnya.

museum perhubungan - kereta presiden

Dari terakhir yang saya datangi waktu kecil, TMII sudah jauh berbeda. Tampak lebih mewah, lebih bagus dan lebih banyak wahana yang dapat kami kunjungi. Satu museum yang kami kunjungi adalah Museum Perhubungan. Di sana di simpan badan pesawat Garuda Indonesia, kereta api Presiden RI tahun 1946, bis PPD yang beroperasi di wilayah Jakarta, dan lain-lain. Kami pun langsung memanfaatkan benda-benda bersejarah itu untuk berfoto. Tiket masuk yang dikenakan sebesar 2000 rupiah saja, plus tambahan 3000 rupiah jika kita ingin menaiki pesawat Garuda Indonesia. Cukup terjangkau untuk banyak kalangan dan bisa mendapat ilmu pula dari keberadaan museum tersebut.

stasiun taman budaya

Perjalanan kami dilanjutkan menuju Stasiun Taman Budaya dimana kami akan naik kereta angin. Walaupun tiket jauh lebih mahal, yaitu 10000 ribu rupiah, dibadingkan tiket masuk museum, namun hal ini tidak mengurangi minat para wisatawan lokal untuk menaiki kereta tersebut. Kereta itu akan berhenti di setiap stasiun yang ada, namun kita kan turun di stasiun awal kita naik.

Ternyata, walaupun perjalanan kami hanya mengelilingi Taman Mini, tetap membuat kami merasa lelah, terutama bagi para ibu yang memiliki batita yang kadang rewel. Untuk itu, akhirnya kami memutuskan untuk mengakhiri acara rekreasi kami di Taman Mini di penghujung tahun 2011.

Jadi, para orang tua yang bijak, pikirkanlah acara liburan panjang Anda dengan tepat, sehingga liburan itu benar-benar mampu membahagiakan putra-putri kita. Taman Mini Indonesia Indah adalah salah satu tempat rekreasi yang murah meriah, mudah diakses dari mana saja, dan tentu saja cocok untuk anak-anak berbagi ilmu pengetahuan dan  saling bertukar cerita.

Tidak ada kata egois dalam mengisi liburan bagi anak-anak kita. Sehingga harus benar-benar diperhatikan dari segi edukasi, segi ekonomi dan segi hiburan.

Selamat liburan, duhai sahabat🙂