source: m.hai-online.com

Mungkin kita masih ingat bencana tsunami yang mengguncangkan Indonesia dan dunia pada Desember 2004. Tepat sekali, tsunami Aceh. Walaupun sudah tujuh tahun berlalu, namun peristiwa itu masih membekas di hati dan ingatan banyak orang, terutama masyarakat Aceh yang banyak kehilangan saudara-saudara terkasih mereka.

Berawal dari tragedi itulah, film “hafalan surat delisa” dibuat. Film yang bertujuan untuk mengenang peristiwa memilukan itu diluncurkan pada bulan Desember ini, yang bertepatan dengan liburan sekolah. Film ini memang direkomendasikan menjadi film keluarga, dimana anak-anak dan orang tua mereka dapat bersama-sama menyaksikan film tersebut.

Saya pun berkesempatan untuk menonton filmnya. Jujur saja, sebenarnya saya agak memilih dalam hal film apa yang menurut saya layak ditonton di bioskop. Saya rasa film ini cukup membuat saya penasaran untuk melihatnya di layar lebar. Saya menonton bersama teman-teman saya dan putra-putri mereka. Saya sendiri tidak mengajak putra saya yang kebetulan sedang berlibur di rumah kakak saya bersama sepupu-sepupunya yang lain.

Di awal film, saya sedikit kecewa. Mengapa? Karena saya menilai bahwa dialog-dialog yang diucapkan terlalu kaku. Bahkan ada kata-kata yang berulang dalam satu kalimat yang diucapkan oleh Umi Salamah (diperankan oleh Nirina Zubir). Saya tidak bisa terbawa oleh suasana hangat keluarga Umi Salamah yang coba disajikan dalam film tersebut. Terlalu kaku dan garing. Selain dialog yang kurang cerdas, acting beberapa pemainnya pun sangat kurang pas. Sebut saja pemeran suster Sofie. Di salah satu scenenya, ketika ada korban yang diturunkan dari ambulan, suster sofie hanya berdiri diam, sambil memasukkan tangannya ke kantong jas susternya (atau dokter ya?). Aneh saja bagi saya, koq ada pasien yang datang, dia malah berdiam diri saja dan tidak terlihat aksi gesit suster yang biasa saya lihat di rumah sakit-rumah sakit. Bahkan di scene lain, ketika Delisa bertemu abinya untuk pertama kali setelah kejadian tsunami itu, suster sofie tersenyum dari awal. Tidak ada guratan terkejut bahagia yang terpancar. Hambar. Mungkin harus ada observasi yang mendalam sebelum mendapatkan peran yang tepat untuk seorang aktor.

Cerita mulai mengalir indah ketika peran Abi muncul. Reza Rahardian sangat piawai memerankan seorang ayah yang mendapati kabar buruk yang menimpa keluargnya. Akting Delisa pun mulai terbangun ketika dia berhadapan dengan sang ayah. Dari sini, perasaan saya mulai terbawa. Bahkan saya menitikkan air mata ketika adegan Delisa tidak mau makan makanan abinya. You did it very good, Mr. Reza!🙂 Selanjutnya cerita cukup berjalan dengan bagus. Dengan pemandangan yang indah bak surga dunia, film itu cukup mengesankan. Dan saya suka lagu tentang ibu itu. I love the song!

Ada lagi hal yang menurut saya kurang bagus, yaitu efek tsunaminya yang benar-benar terlihat hasil edit komputer. Dan bagian ketika kakak-kakak Delisa, Tiur dan ibundanya seolah-olah berjalan menuju surga. Saya merasa kurang sreg saja dengan scene nya ya? Saya rasa insan film Indonesia harus banyak belajar mengenai efek grafis pada sebuah film.

At the end, sebagai film keluarga, film “hafala sholat Delisa”cukup memberi warna pada perfilman Indonesia dan membawa angin cerah perubahan untuk kemajuan film Indonesia. Layak ditonton untuk anak-anak dan keluarga, walaupun mungkin bagi saya atau sebagian orang, masih banyak kekurangan yang harus diperbaiki. Semoga apa yang saya sampaikan bisa menjadi masukan positif untuk insan perfilman Indonesia.

Majulah Film Indonesia!