Salah satu mimpi saya adalah bisa melanjutkan pendidikan saya ke S2 di luar negeri. Mimpi lama yang terpendam, akhirnya saya coba untuk mewujudkannya. Agak terlambat memang dibandingkan teman-teman angkatan saya. Tapi better late than never kan?

Sebagai awal usaha mewujudkannya adalah dengan browsing beasiswa di internet. Karena kita tahu betapa besar biaya yang dibutuhkan untuk belajar ke negeri seberang, sehingga satu cara yang bisa kita tempuh adalah dengan mencari beasiswa. Akhirnya, ketemulah beberapa beasiswa yang bisa saya ajukan sesuai dengan bidang keahlian saya. Saya tertarik untuk melanjutkan ke program master TESOL karena berhubungan dengan pekerjaan saya sekarang sebagai seorang guru bahasa Inggris. Untuk itu ada tiga tujuan negara utama yang bisa diakses, yaitu UK, US dan Australia.

Namun, terkadang harapan tidak sesuai dengan rencana. Dari tiga program beasiswa yang saya lamar, dua diantaranya membutuhkan rekomendasi dari pihak atasan tempat saya bekerja saat ini. Dan ternyata, mendapatkan ijin untuk bisa melanjutkan studi S2 itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Di satu sisi, pihak instansi berharap agar setiap karyawannnya mau mengembangkan diri secara aktif demi kemajuan dirinya selaku seorang profesional serta kemajuan bagi instansi tempat ia bekerja. Kita diharapkan mau mencari ilmu-ilmu baru untuk pengembangan diri kita tanpa harus bergantung kepada instansi, terutama untuk masalah pembiayaan. Namun, di sisi lain, pemberian ijin untuk mengikuti program pengembangan diri itu tidak mudah. Instansi mengharapkan proses pengembangan diri kita tidak menggunakan jam KBM, sehingga kita harus mencari pelatihan-pelatihan atau seminar-seminar yang diadakan pada hari libur saja! Kadang hal ini agak merepotkan karena tidak semua program diadakan pada hari libur. Bahkan lebih banyak program pengembangan diri yang diadakan di hari-hari KBM.

Kembali ke masalah perijinan studi ke luar negeri, hal ini pun tidak mendapat sambutan antusias dari pihak instansi. Dengan beralasan bahwa saya meninggalkan pekerjaan dalam waktu yang cukup panjang, dibutuhkan guru pengganti, yang menurut mereka, tidak mungkin diputuskan kontraknya saat saya kembali.  Sehingga, salah satu konsekuensinya adalah saya harus mengundurkan diri dari tempat saya bekerja jika diterima belajar di luar negeri. Hal ini tentu saja sangat memprihatinkan. Ketika niat untuk mengembangkan diri sangat besar, namun tidak ada dukungan sepenuhnya dari pihak instansi, maka bagaimana kita bisa bisa berkembang lebih baik lagi.

Saya rasa wacana ini harus benar-benar diperhatikan oleh pihak pimpinan instansi. Tidak ada kerugian yang didapat ketika para pegawai mereka mau dengan senang hati berkembang ke arah yang lebih baik. Saya rasa hal ini akan menjadi investasi bagus untuk pihak instansi. Namun, tanpa dukungan dari mereka, apalah artinya mengembangkan diri?

Duhai para pemimpin yang adil dan bijaksana, berikanlah dukungan moril, jika tidak bisa materil, kepada para pegawai anda yang berniat untuk maju dan berubah ke arah yang lebih baik.