bosen nunggu antrian

Selama dua bulan  terakhir ini, saya sedang belajar. Pelajaran yang sangat berharga tentunya. Bagaimana tidak, hari ini adalah kunjungan saya yang ke lima ke psikolog anak. Dari sang psikolog, saya berusaha mengambil banyak ilmu tentang bagaimana menangani anak dengan special need. Ya, buah hatiku dinyatakan memiliki kecenderungan emosi yang tidak stabil. Bisa disebut hiperaktif, tapi kadang ditunjukkan dengan hal-hal yang negatif. Dalam istilah psikologi, kondisi ini disebut dengan temper tantrum.

Temper tantrum adalah ekspresi atau luapan emosi marah yang nyaris histeris. Kadang disertai dengan teriakan, menendang, memukul, atau tindakan-tindakan negatif lainnya. Tantrum ini bisa terjadi kapan saja dan dimana saja, tidak mengenal waktu dan tempat. Ketika ada hal-hal yang membuat anak tidak nyaman, maka disitulah muncul tindakan temper tantrum itu.Umumnya tantrum ini terjadi pada usia anak 2 sampai 4 tahun. Namun, bisa juga usia di atas 4 tahun jika anak memiliki kepribadian yang agak sulit.

Putraku sendiri kini sudah duduk di bangku SD kelas II. Jadi sudah seharusnya dia memiliki kematangan emosi yang lebih baik. Namun, inilah yang belum dimiliki olehnya. Secara kemampuan belajar, dia tidak ada masalah. Namun, ketika menyangkut masalah sikap atau perilaku, maka dia dinyatakan menjadi siswa yang membutuhkan perhatian khusus. Saking khususnya, dia harus dirujuk ke psikolog. Demi kebaikan putra saya, itulah yang kami jalankan sekarang.

Menurut pandangan sang psikolog, memang perkembangan emosional putra saya jauh dibawah kematangan emosi seusianya. Namun, bukan berarti dia tidak paham mana yang benar atau yang salah. Satu hal yang patut diterapkan padanya adalah ketegasan dan kedisiplinan. Putraku beranggapan bahwa dia tidak diperhatikan oleh orang-orang sekitarnya. Sehingga untuk menarik perhatian mereka, dia akan berulah. Karena dengan tindakannya itulah, maka orang-orang akan memperhatikannya. Sayangnya, cara dia menarik perhatian orang lain dilakukan dengan tidak tepat, yaitu dengan temper tantrum itu. Padahal secara sadar, dia tahu bahwa yang dilakukannya adalah salah, namun itu seolah menjadi kebutuhan dia untuk diperhatikan. Dia mencoba memanipulasi orang-orang dewasa yang ada di sekitarnya, termasuk para guru.

Penanganan yang bisa dilakukan adalah bahwa keluarga, terutama saya ibunya, dapat memberikan perhatian yang jauh lebih banyak dibandingkan sebelumnya. Dan penerapan disiplin harus benar-benar tegas, karena jika kita mengalah dengan keinginan dia, maka dia akan selalu melakukan hal yang sama untuk bisa mendapatkan apa yang ia mau. Untuk itu memang dibutuhkan kesabaran yang jauh melebihi rata-rata, dan tetap konsekuen dengan aturan yang telah dibuat.

Menurut Hans Grothe, salah seorang pakar psikologi anak, ada 3 kata kunci untuk meredakan tangisan atau temper tantrum anak, yaitu dengan ketenangan, ketenangan dan ketenangan.

Memang bukan hal yang mudah dan instan untuk bisa mencapai tingkat ketenangan tersebut. Untuk itulah, sebagai orang tua dan guru kita harus terus mempelajari psikologi anak. Karena orang tua dan guru bagaikan peneliti di lapangan terhadap tumbuh kembang anak-anak.

Disinilah diperlukan kerja sama yang baik antara pihak orang tua dan sekolah. Karena menangani kasus temper tantrum ini butuh keterlibatan semua pihak atau lingkungan tempat si anak berada.

Mudah-mudahan dari pengalaman saya ini dapat dijadikan pembelajaran bagi para orang tua dan pendidik demi kebaikan para penerus bangsa.

Semangat berjuang untuk anak-anak terbaik titipan Ilahi….

Sources:

http://www.ibudananak.com/

http://www.tentangperempuan.com/psikologi/psikologi-anak/