tentang character building

Dalam persfektif agama, anak seperti kertas putih; bersih, tanpa noda, tanpa guratan, tanpa coretan. Bagaimana orang tua memperlakukan kertas putih itu, akan sangat membentuk karakter anak. Jika pena yang dituliskan ke kertas putih itu bernilai positif dan semua hal yang mulia, maka kertas itu akan tetap putih bersih dan indah. Namun, jika pena yang kita goreskan bernilai negatif dan semua hal yang jelek-jelek, maka tak ayal, kertas putih itu akan ternoda. Jadi, tanggung jawab orang tua lah dan orang-orang dewasa di sekeliling anak tersebut untuk memperlakukan kertas putih itu dengan sebaik-baiknya. Karena pastinya, tulisan kita itu akan dipertanggungjawabkan di hadapan sang Maha Pencipta.

Beda halnya dalam persfektif psikologis. Dalam persfektif ini, dinyatakan bahwa setiap anak cerdas. Tidak ada anak yang bodoh, atau tidak ada anak yang tidak memiliki kecerdasan. Namun, perlu diingat bahwa kecerdasan bukan hanya terpaku pada satu pijakan yaitu intelektual. Ada delapan kecerdasan pada setiap manusia. Nah, setiap anak pasti cerdas minimal di satu wilayah kecerdasan. Antar satu anak dengan anak yang lainnya tentu saja memiliki kecerdasan berbeda pula. Maka jangan pernah kita sebagai orang dewasa membanding-bandingkan antara si anak A dengan si anak B, karena masing-masing individu unik dan berbeda. Contohnya: kita mengenal seorang Christian Gonzales, seorang yang sangat cerdas si persepakbolaan. Maka kita dapat menyebutnya bahwa Gonzales adalah salah satu contoh figur yang cerdas secara kinestetik. Contoh lain adalah Justin Bieber, seorang penyanyi remaja berasal dari Kanada. Bieber adalah satu contoh dari figur yang cerdas secara musikalitas. Maka sebagai orang tua dan guru, kita harus mampu mengenali dan menggali kecerdasan putra-putri dan anak didik kita, sehingga tidak akan ada lagi istilah anak bodoh. Dengan karakter kecerdasan yang berbeda ini pula, kita harus memiliki lebih dari satu ilmu parenting yang dapat mengakomodir perlakuan dan kebutuhan setiap indvidu anak secara tepat dan merata.

Karakter anak juga dapat dirujuk kepada “the law of harvest“, dimana dalan hukum tersebut disebutkan bahwa:

siapa yang menabur, dia akan menuai

siapa yang menanam, dia akan mengetam

Untuk itu, kita harus bisa menaburkan karakter-karakter baik pada anak di rumah maupun di sekolah.

Sudut pandang orang tua dan guru juga sangat berpengaruh terhadap “warna” masa depan anak. Tanamkan positive thinking kepada setiap anak tanpa kecuali. Kita harus yakin bahwa anak yang dikirim Allah swt adalah anak terbaik untuk kita. Dan anak yang dititipkan di sekolah-sekolah adalah anak didik terbaik untuk sekolah. Alangkah indahnya jika kita mampu mencintai anak-anak kita tanpa syarat. Karena setiap anak kita, butuh dukungan, dan bukan ancaman dari para orang dewasa. Anak butuh pujian, bukan caci maki. Anak butuh rasa nyaman, dan bukan kegelisahan.

Karena anak tumbuh di dua lingkungan utama, yaitu rumah dan sekolah, maka harus ada keseimbangan penanaman karakter antara pihak keluarga di rumah dan pihak guru dan manajemen di sekolah. Jika tidak ada keseimbangan, maka dikhawatirkan akan ada ketimpangan-ketimpangan yang akhirnya membingungkan anak-anak kita. Untuk itu diperlukan kesamaan visi dan misi yang hanya akan bisa dicapai jika sekolah memiliki yang namanya “parenting education program“. Program ini harus bisa dijalankan di setiap sekolah, sehingga keseiimbangan penanaman karakter pada anak akan terjaga dengan baik.

Demikianlah sekelumit tentang character building pada anak, seperti yang disampaikan oleh Bapak Suhadi Fadjaray.