Kalau Anda pernah membaca buku Totto-chan, maka Anda pasti mengenal guru Kuboyashi. Ya, benar sekali. Seorang guru yang mampu mendengarkan cerita seorang anak kelas 1 SD selama 4 jam tanpa rasa bosan atau mengantuk. Bahkan guru Kuboyashi terlihat sangat menikmati setiap ceritanya walau kadang susunan kalimat atau alur cerita yang berantakan. Namun, tak sedikitpun rasa bosan menghantui sang guru.

Totto-chan, sang anak tersebut, memang seorang gadis cilik yang berbeda. Sangat unik dan pemikir hebat, namun tidak mampu diimbangi oleh gurunya, sehingga meminta Ibu Totto-chan memindahkannya dari sekolah lamanya.

Membaca kembali ulasan cerita Toto-chan, tak ayal membuatku berpikir kembali tentang buah hatiku sendiri. Ketika datang surat dari sekolah yang isi suratnya adalah mengembalikan putraku padaku, aku langsung meneteskan air mata. Tak mampu membendungnya. Hatiku perih, hatiku gamang. Apa yang harus aku sampaikan pada permata hatiku itu. Aku tak sanggup untuk mengucapkannya. Akhirnya, aku melakukan apa yang dilakukan oleh ibunda Totto-chan. Aku menanyakan pada putraku “Nak, kalau kamu pindah, maunya pindah ke sekolah mana?” Dia sempat bingung dan bilang “Kenapa aku harus pindah?” Lalu saya jawab lagi “Katanya kamu mau sekolah yang pulang siang hari, nanti kita cari ya?” Ada banyak jawaban yang dilontarkannya: Pertama, dia maunya pindah ke sekolah yang lebih mahal. Kedua, dia ingin ke sekolah dimana temannya bersekolah. Ketiga, dia malah mengajukan pertanyaan balik “emang bener ya ma sekarang aku boleh pindah?”

Sampai saat ini, aku masih belum tahu akan dipindahkan ke sekolah mana. Sempat aku berpikir akankah putraku menjadi lebih baik di sekolah lain? Ataukah dia akan merasa terabaikan dan ditolak oleh sekolahnya sendiri? Pemikiran-pemikiran itu selalu berkecamuk, karena aku belum mampu memutuskan mana yang terbaik untuk putraku. Namun, tentu saja aku harus dan pasti optimis bahwa akan selalu ada perubahan positif di balik setiap peristiwa. Akan ada banyak pelajaran dan hikmah yang bisa ku ambil dari masalah ini. Melalui ikhtiar aku dengan membawanya berkonsultasi dengan seorang psikolog anak, aku sangat berharap ada kemajuan positif di diri putraku dan diriku sendiri.

Aku hanya berharap semoga di luar sana, di sekolah barunya nanti, ada guru Kuboyashi lain, yang siap mendengarkan, yang siap membentuk karakter terbaik putraku. Yang dengan kesabaran dan pengertiannya, mampu membimbing seorang anak hingga menemukan jati dirinya. Yang mampu dengan sekuat tenaga bertahan dan mempertahankan pandangan positif terhadap setiap perilaku siswanya. Semoga……Amin🙂

Terima kasih Totto-chan atas cerita yang sangat menginspirasiku dan banyak orang di belahan dunia lainnya, yang mampu membuka cakrawala pikiran tentang dunia anak dan pendidikan.