Sebagai seorang penggemar berat sinekuis Para Pencari Tuhan, saya selalu mencoba mengambil hikmah dari setiap dialog atau adegan pada setiap episodenya. Walaupun tahun ini saya tidak terlalu mengikutinya dengan full, tapi saya tetap berusaha meluangkan waktu untuk menontonnya.

Pada satu episode, ada satu hal yang sangat menarik perhatian saya. Adegan dimana Barong, Chlesea, dan Juki datang menjenguk bang Jack di gubuknya yang baru (?). Kedatangan yang seharusnya sangat diharapkan oleh bang Jack, tapi ternyata berakhir dengan keributan di antara mereka. Barong, Chelsea dan Juki yang masih marah dengan tindakan bang Jack yang sudah mengusir mereka dari musholla, merasa bahwa diusirnya bang Jack merupakan balasan akan sikapnya. Mereka tidak menyadari betapa bang Jack sangat merindukan mereka dan menyesali tindakannya itu. Namun, apalah daya, mereka sama2 keras kepala, sehingga pertemuan singkat itu malah berujung dengan pertengkaran.

Namun, satu hal yang cukup menggelitik dan membuat saya takjub adalah pertengkaran mereka bahkan hanya dipicu dari satu kata, dan bisa berisi sebuah nilai positif didalamnya. Ketika Chelsea berkata bahwa kedatangan mereka untuk bersilaturahmi, bang Jack malah mengklarifikasi kata yang dipakai Chelsea itu. “Bukan silaturahmi Chelsea, tapi silaturahim!” jawab Chelsea: “Sama saja, bang Jack!”

Namun, masih sambil emosi, bang Jack menjelaskan bahwa dua kata yang serupa tapi tak sama itu memiliki arti yang berbeda. Silaturahim adalah menyambung kasih sayang, sementara silaturahmi adalah menyambung sakitnya tali pusat setelah melahirkan. Nah, penjelasan bang Jack, ketika kita mengunjungi sanak saudara, handai taulan, teman atau bahkan musuh kita sekalipun, itu adalah dalam rangka upaya kita untuk menyambungkan rasa kasih sayang kita yang mungkin terputus dan terpisahkan oleh jarak dan keadaan. Jadi, bukan silaturahmi, tapi silaturahim!

Saya pikir dialog itu menarik. Tanpa berusaha menggurui, bang Jack sedang menjelaskan perbedaan inti dari penggunaan kata “silaturahmi” dengan “silaturahim”. Kata yang kadang digunakan secara salah. Bahkan masyarakat tidak menyadari bahwa selama ini mereka telah menggunakan istilah yang salah. Dengan caranya yang cerdas dan sederhana, para tim kreatif sinekuis PPT 5, telah berhasil memasukkan nilai-nilai kebenaran, yang tidak membuat masyarakat merasa disalahkan secara langsung, atau tidak merasa digurui.

Seharusnya, sinetron-sinetron lain belajar dari sinekuis PPT ini, yang berbicara secara lugas tentang pembelajaran masyarakat akan sesuatu yang umum tapi terkadang salah penggunaannya. Belajar tentang bagaimana menyampaikan kebenaran dengan cara yang menyenangkan sehingga mampu diterima masyarakat secara luas.

Salut untuk semua tim dalam PPT yang selama lima tahun ini telah membawa angin segar dalam industri persinetronan, yang sederhana tapi lugas, yang kocak tapi tetap bermartabat, yang serius tapi santai.

Semoga saja akan semakin banyak tayangan-tayangan yang mendidik bagi masyarakat. Insya allah🙂