Belajarlah hingga ke negeri China. Pepatah ini menjadi peganganku mengejar mimpiku untuk kuliah di luar negeri.

Demi meraih mimpi dan cita-citaku itulah, aku telah mulai berburu beasiswa-beasiswa yang ditawarkan dari berbagai negara di dunia. Karena bidang keahlianku saat ini adalah bahasa Inggris, maka aku berusaha mencari beasiswa di negara-negara yang berbahasa Inggris. Ketiga negara pilihanku adalah Australia, Amerika dan Inggris. Kenapa harus ketiga negara tersebut? Karena aku ingin benar-benar meningkatkan keahlianku berbahasa Inggris dari semua sisi, baik dari segi accuracy atau ketepatan ucapan dan tulisan, hingga ke fluency yaitu kelancaran berbicara dan menulis.

Rencana pertamaku adalah melamar beasiswa ke Endeavour Award, Australia. Hampir dua minggu aku mempersiapkan semua prasyarat yang dibutuhkan. Sayangnya, deadline aplikasi tanggal 30 Juni tidak dapat aku penuhi sehubungan dengan belum keluarnya hasil tes TOEFL iBT ku. Menyedihkan memang, tapi aku harus terus mencobanya. Akhirnya aku mencoba melamar beasiswa Fullbright dari Amerika. Berhubung ada hal-hal kurang jelas yang aku dapatkan melalui website nya, aku memutuskan untuk datang langsung ke sekretariat AMINEF, sebagai penyelenggara program beasiswa tersebut.

Berdasarkan informasi yang aku dapatkan, AMINEF berkantor di Gedung Balai Pustaka lantai 6, Jl, Gunung Sahari Raya No. 4 Jakarta Pusat. Dengan semangat empat lima, aku mulai mencari tahu rute bis yang menuju ke arah tersebut. Dari Bekasi, aku menemukan tiga trayek bis, yaitu Patas 26, Patas 58 dan Patas AC27 yang bisa membawaku ke tujuan. Dengan sangat percaya diri, aku dan temanku turun di daerah Bulak Kapal untuk menunggu bis-bis patas tersebut. Hampir setengah jam kami berdiri di sisi jalan sambil memanjangkan leher melihat patas yang akan melewati kami. Namun hasilnya nihil. Ada yang salah sepertinya. Apakah mungkin bisnya tidak lewat tol Bekasi Timur, melainkan via tol Bekasi Barat, pikir temanku. Hal ini tak terpikirkan olehku sebelumnya. Di pemikiranku, semua bis patas lewat tol Bekasi Timur.:/

Karena bis yang kami nanti tidak kunjung datang, akhirnya kami memutuskan untuk naik angkot menuju terminal. Seandainya benar ketiga patas tersebut berangkat melalui tol Bekasi Barat, maka kami harus naik dari terminal. Benar saja, tiba di terminal, kami langsung disambut dengan patas AC27 yang kami nantikan. Kami segera naik dan meluncur menuju Gedung Balai Pustaka. Di perjalanan, kami coba memastikan lagi arah tujuan kami ke kondektur bis. Ternyata, kami salah naik bis. Untuk bisa langsung berhenti tepat di depan gedung tersebut, kami seharusnya naik patas 63! Alhasil, kami turun di perempatan jalan dan naik metromini 10 seperti yang diarahkan oleh salah seorang penumpang bis sebelum kami turun. Naiklah kami ke bis khas Jakarta tersebut. Kami turun tepat di depan gedung Balai Pustaka. Menyebrang jalan, kami mencari jalan masuk ke gedung. Namun, kenyataan yang kami terima sangat pahit. Sekretariat AMINEF sudah pindah ke gedung lain sejak April 2011. Sementara itu, gedung Balai Pustaka itu sendiri dibeli oleh Departemen Keuangan RI.

Menurut informasi salah seorang warga yang bekerja di gedung itu, AMINEF berkantor di daerah Kuningan, dekat dengan Menara Imporium. Akhirnya kami berjalan kaki mencari Kopaja P10 yang akan membawa kami ke Kuningan. Menelusuri jalan trotoar yang cukup bersih dan nyaman, kami tidak terlalu merasakan lelah. Bahkan kami berjalan santai sambil sesekali melihat gedung-gedung bagus yang kami lewati. Iseng-iseng sambil menghafal jalan raya!🙂 Cukup jauh juga kami berjalan. Akhirnya sampailah kami di depan Hotel Borobudur, dimana kami bisa menunggu bis p10 untuk membawa kami ke Kuningan. Sepanjang jalan pula, kami selalu berpanjang mulut untuk selalu bertanya rute mana yang harus kami tempuh.

Sampai di Kuningan, kami berhenti tepat di depan Menara Imperium. Bagaikan orang hilang, kami hanya mondar-mandir sambil mencari alamat dan nomor telpon AMINEF yang bisa dihubungi memalui internet handphone. Kami juga berusaha bertanya ke beberapa orang yang melewati kami. Hampir semua orang yang kami tanyakan, tidak ada yang tahu gedung AMINEF. Akhirnya kami menemukan alamatnya yang baru setelah browsing di internet. Guess what? Ternyata kantor AMINEF ada di Jalan Sudirman! Kebayang kan bete nya? Dari Gunung Sahari, Kuningan, sekarang harus ke Sudirman! Benar-benar perjalanan panjang!

Saat itu tepat pukul 12 siang! Perut sudah memanggil minta diisi. Akhirnya kami mencari tempat makan terdekat. Pilihan kami jatuh pada menu bebek sambal ijo! Hmmm….ngiler nih! Rasanya? Not bad lah. Perut terisi, pencarian pun dilanjutkan. Kami mulai beraksi lagi bertanya ke orang-orang yang kami anggap tahu alamat yang kami tuju. Menurut salah seorang security, kami bisa naik kopaja sampai Jalan Baru, lalu berganti mikrolet 44. Sambil diguyur hujan gerimis, kami memulai perjalanan selanjutnya. Turun di Jalan Baru, kami harus berjalan beberapa ratus meter untuk bisa naik mikrolet 44. Leganya ketika kami masuk ke dalam mikrolet tersebut karena ini adalah angkutan terakhir yang akan membawa kami ke kantor AMINEF.

Namun, harapan kami ternyata belum bisa terkabul. Di dalam mikrolet sudah ada 2 penumpang pria, berpakaian rapi dan membawa tas laptop, seperti pegawai kantor pada umumnya. Awalnya tidak ada yang mencurigakan. Tetapi, temanku merasakan ada yang aneh dari tingkah laku keduanya. Salah satu dari mereka mulai berpindah duduk mendekati temanku, jadi sekarang posisi mereka berdua mengapit temanku tersebut. Mereka saling berpandangan mata, tidak hanya sekali, namun berkali-kali. Aku sendiri tidak menyadari hal itu, sampai ketika aku menatap mata temanku itu, lalu dia meminta pak supir untuk berhenti. Bingung, aku hanya mengikutinya saja. Aku berpikir dalam hati, koq berhenti di sini ya? oh, mungkin temanku itu sudah tahu tempatnya. Namun, ternyata, aku mendapat jawaban mengejutkan dari temanku itu. Dia bilang bahwa dua orang pria tersebut adalah copet! Walah, aku sendiri tidak sadar akan hal itu. Namun temanku gemetar dan ketakutan, jadi aku percaya bahwa dua orang itu memang copet!

Setelah agak tenang, kami memberhentikan mikrolet 44 lainnya, dan kali ini kami memutuskan untuk duduk di samping supir. Kami pun meminta pak supir untuk mengantarkan kami ke Hotel Le Meridien, karena itu adala gedung yang paling mudah untuk dikenali siapa saja. Turun dari mikrolet, kami berjalan sekitar 500 meter menuju Gedung CIMB Niaga Plaza tempat dimana AMINEF berada.

Akhirnya, pencarian kami pun berakhir! Kami tiba dengan perasaan lega, walaupun terasa sangat lelah. Sebelum masuk ke gedung tersebut, kami memutuskan untuk sholat dzuhur terlebih dahulu karena waktu sudah menunjukkan pukul 2 siang. Selesainya, kami langsung menuju kantor AMINEF yang terletak di lantai 3. Meninggalkan KTP kami di security, dan menukarnya dengan tanda pengenal tamu, kami pun masuk lift. Tanpa berpikir panjang, kami langsung berbelok ke arah kanan setelah kami keluar lift. Ternyata, itu bukan kantor yang kami tuju. AMINEF ada di seberang kantor mereka. Hufftt…another slight mistake!

Finally, here we are! At the AMINEF Secretariat. Kami langsung mencari informasi yang kami butuhkan. Singkat, padat dan jelas, itulah penjelasan yang kami dapat dari salah seorang staf di sana. Satu hasil yang kami dapat, bahwa beasiswa yang dapat kami ikuti ada dua jenis, yaitu ILEP, 4-5 bulan training bagi guru di Amerika, dan Master Degree, program S2 yang terbuka bagi masyarakat umum. Deadline aplikasi beasiswa jatuh pada bulan April setiap tahunnya. Jadi, aku terpaksa harus menunda keinginanku hingga tahun depan.

Semoga perjalanan panjangku berburu beasiswa akan berbuah manis pada saatnya. Amin🙂

(Special thanks for my soul mate for accompanying me all day long! Big hug for you :D)