Ketika mendengar kata “khitanan masal”, saya langsung berasumsi “oh, ada acara sunatan masal’! Acara sosial ini menyediakan program sunat gratis bagi anak-anak yang berasal dari keluarga yang kurang mampu (walau kadang-kadang ada juga yang datang dari keluarga cukup berada!) Karena sunat itu wajib bagi setiap laki-laki Muslim, maka salah satu organisasi sosial di Yayasan Al Muslim, yaitu Badan Santunan Mahabbah, rutin mengadakan program khitanan masal ini. Setiap tahunnya, ada sekitar tiga puluh anak-anak usia 4 sampai 13 tahun yang ikut program ini. Selain menyediakan program sunat gratis, pihak penyelenggara juga memberikan bingkisan berupa baju koko, sarung, kopiah, tas dan sedikit uang saku. Program ini cukup menarik minat masyarakat di sekitar lingkungan Yayasan Al Muslim. Bahkan ada juga yang datang dari tempat yang cukup jauh.

BSM YAM mengadakan acara sunatan masal

Namun demikian, ada satu hal menggelitik yang cukup membuat saya sedikit bertanya-tanya dalam hati. Ketika seorang ustadz yang diundang mengisi acara khitanan masal menyampaikan arti kata “khitan” itu sendiri. Menurut beliau, “khitan” berarti kemaluan laki-laki atau perempuan. Yang menjadi pertanyaan saya adalah kenapa masyarakat sering menggunakan kata “khitanan masal”, sementara arti khitan itu bukanlah menyunat kemaluan pria. Pada awalnya saya selalu beranggapan bahwa khitan berarti sunat, artinya memotong sedikit kulit dari ujung kemaluan laki-laki demi alasan kesehatan. Jadi ketika sang ustadz menjelaskan bahwa arti khitan itu adalah kemaluan, saya berpikir bahwa selama ini asumsi saya salah. Dan saya yakin pula bahwa penggunaan kata khitanan masal itu pun menjadi kurang tepat. Sepertinya kita harus sudah mulai mengganti kata “khitanan masal” tersebut menjadi “sunat khitan masal”, mengingat arti harafiah dari kata khitan itu sendiri.

Menurut saya, ada baiknya para pakar bahasa mulai meluruskan kaidah penggunaan bahasa yang tepat, sehingga kita tidak membiarkan penggunaan kata yang salah, tanpa adanya koreksi dari orang yang paham istilah bahasa. Karena kadang-kadang, masyarakat menggunakan istilah tanpa tahu arti sebenarnya dari istilah atau kata yang mereka gunakan.

Dari acara “khitanan masal” itu, saya bisa belajar satu kata, KHITAN! Kecil memang, tapi cukup mampu memperbaiki kesalahan fatal mengenai arti sebuah kata.

Selamat berbahasa Indonesia yang baik dan benar! Semoga kita tidak pernah berhenti untuk belajar dan membelajarkan masyarakat. Insya allah.🙂

Foto-foto acara sunatan masal BSM YAM:

Daftar ulang peserta sunatan masal