Subhanallah….indahnya…
Itulah kata pertama yang terlontar ketika pertama kali saya menginjakkan kaki di Pantai Tanjung Aan. Indah, menakjubkan, bersih, tenang. Saya dan dua sahabat saya pun saling berpandangan ingin menyamakan persepsi kami tentang indahnya pantai ini. This is beyond our expectation. Saya pikir, pantainya pasti sama saja dengan pantai-pantai yang kami kunjungi sebelumnya. Tapi, yang ini benar-benar membuat saya berdecak kagum. Bak berada di surga. Bahkan kata-kata hampir gagal menggambarkan indahnya pantai ini.

Pantai Tanjung Aan

Sehari sebelumnya…

Saya, putra saya dan dua sahabat saya tiba di Bandara Selaparang sekitar pukul setengah delapan malam. Penerbangan yang cukup singkat dari Bandara Ngurah Rai karena hanya memakan waktu dua puluh menit saja! Kami langsung mencari taksi yang akan membawa kami ke Hotel Jayakarta Lombok. Gelapnya malam sedikit menyulitkan kami mencari jalan keluar bandara. Namun akhirnya kami menemukan satu taksi tepat di depan gerbang bandara. Dengan sedikit tawar menawar harga, akhirnya kami naik taksi tersebut dan langsung menuju hotel.
Perjalanan ke hotel sedikit membuat deg-degan karena jalan sangat gelap. Terbiasa dengan penerangan yang cukup di tempat asal kami, Bekasi, keadaan gelap di kota Mataram ini membuat kita merasa berada di perkampungan yang belum terlalu banyak tersedia listrik.
Akhirnya dalam kegelapan malam, kami sampai di hotel. Kami menurunkan koper-koper kami dibantu oleh Pak Supir, yang sangat ramah dan baik. Salah seorang teman saya langsung menuju ke bagian resepsionis untuk cek in, dan kami mendapat kamar yang terletak di lantai satu. Lelah, kami menuju ke kamar hotel dan beristirahat di sana.
Keesokan harinya, kami mencari paket tur yang akan membawa kami keliling lombok. Tidak semuanya sih, tapi minimal bisa menjangkau beberapa objek wisata yang paling sering dikunjungi wisatawan. Rute yang akhirnya kami setujui adalah ke pusat pembuatan tembikar, kampung Sade, dan pantai Kuta dan terakhir ke pantai Tanjung Aan.

Dengan menyewa satu mobil, kami pun memulai penjelajahan kami. Berangkat pukul sembilan pagi, kami dibawa ke pusat pembuatan tembikar. Kami diajak melihat proses pembuatan tembikar. Bahkan putra saya dan dua teman saya ikut mencoba membuat satu produk tembikar tersebut, yaitu hiasan meja berbentuk gajah dan kura-kura. Kami cukup memberi uang sebesar sepuluh ribu rupiah dan hasilnya bisa kami bawa pulang.

Membuat Tembikar
Puas melihat dan membeli produk tembikar, kami pun melaju ke Kampung Sade, kampung masyarakat asli Lombok. Masyarakat kampung Sade adalah masyarakat yang menggantungkan hidupnya dari hasil kerajinan tangan mereka sendiri. Seluruh keluarga beranak pinak di sana, sehingga kampung itu menjadi sangat padat. Di sepanjang gang, banyak dijual hasil kerajinan tangan mereka seperti manik-manik dan kain khas Lombok.

Kampung Sade

Matahari semakin tinggi. Kami memutuskan melanjutkan perjalanan ke pantai Kuta. Melewati jalan berdebu, dan sepi, mobil melaju tidak terlalu cepat. Akhirnya kami sampai di pantai Kuta. Namun, Pak Sopir menyarankan kami untuk mengunjungi pantai Tanjung Aan dahulu, nanti sepulang dari sana, baru kami berhenti di pantai Kuta. Kami menurut saja. Kami pikir tidak rugi juga koq!🙂

Pantai Tanjung Aan

Akhirnya kami sampai lah di pantai surga itu. Seperti yang saya gambarkan  di awal, indah sekali. Dengan perpaduan tiga warna, pantai itu bagaikan pelangi di dasar laut! Amazing!

Kami pun langsung berfot0-foto ria. Bak foto model, setiap jepretan kamera, kami berganti gaya. Seru sekali. Hampir tak ingin lepas mata ini memandang indahnya pantai ini.

Pantai Kuta

Dengan sedih, kami terpaksa harus meninggalkan pantai karena hari sudah sore. Kami ingin mampir dahulu sebentar di pantai Kuta yang tadi cuma kami lewati saja. Sedikit bergaya ketika difoto, kami memutuskan untuk kembali ke hotel. Khawatir hari akan gelap ketika kami tiba di hotel nanti.

Mobil pun melaju…meninggalkan jejak kaki kami di pantai Tanjung Aan dan Kuta….:)