Siapa yang bersungguh-sungguh, ia pasti berhasil.”

Kalimat itu mengawali perjumpaan kami dengan seorang penulis berbakat. Bukunya yang berjudul Negeri 5 Menara dan Ranah 3 Warna telah menjadi novel yang sangat popular akhir-akhir ini. Ya, ia adalah Ahmad Fuadi, seorang wartawan yang telah berkeliling dunia ke lebih dari tiga puluh Negara. Pria dengan perawakan kecil itu adalah sosok seorang penulis yang kalem, murah senyum, dan ramah. Ia bercerita bagaimana mengawali proses menulisnya. Proses yang menurut ia banyak dipengaruhi oleh jiwa petualangnya. Dengan kalimat magis di atas, pria kelahiran Sumatra Barat itu menggantungkan mimpinya.

Gb. 1. Ahmad Fuadi dengan kalimat saktinya “man jadda wa jadda.”

Ahmad Fuadi berasal dari keluarga yang bersahaja. Ibunya adalah seorang guru seperti saya. Ia dipaksa orang tuanya untuk melanjutkan sekolah ke Pesantren Gontor yang terletak ribuan kilometer dari desa asalnya. Berada di pulau yang berbeda, Ahmad Fuadi remaja harus berangkat sendiri ke sekolahnya yang baru dengan menggunakan bis. Perjalanan yang panjang dan melelahkan tapi ia tetap bertekad tetap berjuang demi membahagiakan kedua orang tuanya.

Inilah awal hidup baru bagi Fuadi remaja. Sendiri tanpa sanak saudara, akhirnya ia bisa menemukan kehidupan baru dalam pesantren. Sekolah dengan para pengajar yang sangat ikhlas yang pernah ia kenal. Bersama sahabat-sahabat barunya di sana, ia bermimpi. Mimpi menginjakkan kaki di negara-negara di dunia dengan kekhasan masing-masing. Dari sinilah cerita novel itu berawal. Dari mimpi enam orang bersahabat yang dituangkan ke dalam imajinasi penulis yang sangat luas.

Gb. 2. Saat saya membeli bukunya yang berjudul Negeri 5 Menara.

Dari mulutnya mengalir proses awal ia menulis. Berbekal pengalamannya sebagai wartawan, ia mencoba membuat novel yang berawal dari kisah kehidupan pribadinya. Dengan bumbu-bumbu drama yang ditambahkan di sana-sini, jadilah novel itu memikat minat banyak pembaca di tanah air.  Menurutnya, setiap orang bisa menulis. Siapapun itu. Hanya saja, sedikit orang yang mau meluangkan waktunya untuk benar-benar memaksa diri mereka untuk menulis. Menjadi penulis yang baik tidak bisa instan. Artinya sekali menulis langsung jadi atau berhasil. Menulis butuh latihan. Ada banyak kisah orang tentang proses mereka menulis. Kadang mereka akan terhenti di tengah jalan ketika mood menulisnya hilang atau idenya pergi entah kemana. Bagi seorang penulis, kita harus pandai mejaga konsistensi penulisan kita. Kita harus berani menjadualkan waktu untuk menuangkan ide-ide kreatif kita. Jika tidak, maka penulisan kita tidak akan pernah sampai akhir.

Ia sendiri mengungkapkan gaya penulisan masing-masing orang bisa  berbeda. Bagi ia sendiri, ia akan memulainya dengan membuat peta konsep (mind mapping). Dari peta konsep tersebut, ia membuat ide-ide pendukung sehingga peta konsepnya akan menjadi lebih luas. Tidak ada batasan berapa banyak peta konsep yang dibuat. Kita dapat menyesuaikan dengan keseluruhan bahasan yang akan ditulis. Setelah peta konsep, kerangka tulisan dibuat untuk mempermudah mengawali tulisan kita. Kerangka tulisan ini mirip seperti daftar isi. Sehingga urutan-urutan tulisan kita akan tertuang secara kronologis. Langkah terakhir adalah pengembangan ide dalam sebuat paragraf. Karena inti tulisan kita adalah bagaimana kita menuangkannya dalam paragraf-paragraf bermakna yang kemudian akan menjadi sebuah buku yang kita harapkan.

Langkah-langkah penulisan tersebut bukanlah harga mati. Artinya kita dapat mencoba melakukanya, tapi ketika langkah tersebut tidak cocok dengan gaya kita, maka kita dapat mencoba menulis dengan cara lain. Yang pasti harus diingat adalah “tuliskan semuanya”. Kita awali dengan mulai menulis apa saja, tanpa berusaha untuk mengedit tulisan kita. Setelah tulisan kita selesai, barulah kita luangkan waktu untuk membaca kembali apa yang telah kita tulis, dan memberikan koreksian jika diperlukan.

Gb. 3. Ahmad Fuadi menandatangani novel nya untuk para penggemar.

Bagi seorang Ahmad Fuadi, referensi menulis sangat diperlukan. Ketika ia sudah mulai kehabisan kata-kata atau ide, ia akan mulai membuka kembali catatan hariannya, atau foto-foto kenangannya, bahkan surat-surat yang ia kirimkan ke orang tuanya. Karena baginya, referensi sangat dibutuhkan bagi seorang penulis. Referensi memperkaya ide dan kekuatan bahasa yang akan kita gunakan. Untuk itulah, kita harus membekali diri kita dengan banyak bacaan dan pengalaman.  Banyak membaca akan menambah ide bagi tulisan-tulisan kita nantinya.

Mulailah menulis dari sekarang, sahabat. Kami menanti hadiah-hadiah tulisan yang indah yang tertuang dari jari jemari lentik Anda semua.

Selamat Menulis! J